{"id":9232,"date":"2026-07-21T17:44:11","date_gmt":"2026-07-21T10:44:11","guid":{"rendered":"https:\/\/sonarplatform.com\/?p=9232"},"modified":"2026-07-21T17:44:14","modified_gmt":"2026-07-21T10:44:14","slug":"tren-social-listening-2026-insight-value","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/tren-social-listening-2026-insight-value\/","title":{"rendered":"Trends Social Listening 2026: Mengubah Wawasan Menjadi Nilai Bisnis"},"content":{"rendered":"\n<p>Pada 2026, percakapan digital tidak lagi sekadar \u201cramai\u201d di permukaan. Banyak keputusan konsumen\u2014mulai dari riset, pembandingan, hingga pembelian\u2014dipengaruhi oleh sinyal yang muncul di komentar, komunitas niche, ulasan, dan konten kreator. Di sisi lain, organisasi menghadapi risiko reputasi yang lebih dinamis: isu kecil dapat menyebar cepat, lalu bertahan lama karena terdokumentasi dan mudah ditemukan kembali.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah lanskap tersebut, social listening semakin diposisikan sebagai kapabilitas strategis, bukan tugas administratif. Tantangan utama bagi banyak tim bukan \u201cbagaimana mengumpulkan data\u201d, melainkan <strong>bagaimana mengubah wawasan menjadi keputusan<\/strong>\u2014lalu mengubah keputusan itu menjadi <strong>nilai bisnis<\/strong> yang bisa diukur, dipertanggungjawabkan, dan diulang.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Artikel ini membahas tren social listening 2026 serta kerangka kerja praktis untuk mengonversi sinyal sosial menjadi strategi lintas fungsi (marketing, customer care, product, dan PR). Seluruh pembahasan disusun dalam gaya formal untuk audiens tingkat menengah, dengan fokus pada metodologi dan indikator kinerja.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa itu social listening dan mengapa berbeda dari social monitoring?<\/h2>\n\n\n\n<p>Social listening adalah proses mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan percakapan digital untuk menemukan pola, makna, serta pendorong perilaku audiens. Intinya bukan hanya mengetahui \u201capa yang sedang terjadi\u201d, melainkan memahami \u201cmengapa hal itu terjadi\u201d dan \u201capa implikasinya bagi bisnis\u201d. Karena itulah social listening umumnya mencakup analisis topik, sentimen, share of voice, sampai identifikasi pendorong (drivers) yang memicu perubahan persepsi.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbeda dengan itu, social monitoring lebih menekankan respons operasional: memantau mention, komentar, atau tag secara real time untuk menjawab pertanyaan pelanggan, menanggapi keluhan, atau mengelola percakapan saat kampanye berlangsung. Monitoring penting, tetapi sifatnya reaktif. Social listening melangkah lebih jauh: menggabungkan data historis dan data saat ini untuk menemukan pola yang dapat dipakai menyusun strategi.<\/p>\n\n\n\n<p>Perbedaan praktis yang perlu dipahami:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Monitoring<\/strong>: fokus pada kejadian saat ini, respons cepat, dan penanganan interaksi harian.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Listening<\/strong>: fokus pada pola, insight, pemetaan isu, dan rekomendasi yang mendorong keputusan strategis.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Outcome<\/strong>: monitoring menjaga pengalaman harian; listening membentuk rencana, prioritas, dan mitigasi risiko.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa social listening menjadi lebih penting pada 2026?<\/h2>\n\n\n\n<p>Relevansi social listening pada 2026 didorong oleh tiga hal utama: (1) perilaku \u201csocial as search\u201d yang kian kuat, (2) percepatan konten berbasis AI yang membuat kualitas informasi lebih beragam, dan (3) kebutuhan organisasi untuk membuktikan ROI di tengah kompetisi belanja iklan dan biaya distribusi yang meningkat. Dengan kata lain, social listening membantu organisasi meminimalkan spekulasi dalam perencanaan: keputusan dibuat berdasarkan sinyal nyata dari audiens.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, social listening juga berperan sebagai <em>early warning system<\/em>. Banyak tren tidak muncul secara \u201crapi\u201d; ia merembes melalui pertanyaan berulang di komentar, keluhan yang mulai meningkat, atau perubahan bahasa audiens ketika menjelaskan masalahnya. Organisasi yang menang bukan selalu yang paling cepat bereaksi, tetapi yang paling cepat menangkap sinyal\u2014lalu memvalidasinya sebelum menjadi isu besar.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">6 tren social listening 2026 yang paling relevan bagi bisnis<\/h2>\n\n\n\n<p>Tren social listening pada 2026 bergerak pada arah yang semakin \u201cAI-assisted\u201d namun tetap menuntut kontrol kualitas. Artinya, teknologi membantu menyeleksi sinyal dari noise, tetapi keputusan tetap membutuhkan konteks manusia\u2014terutama untuk isu sensitif dan interpretasi reputasi.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tren 1: Social listening bergeser dari laporan menjadi penggerak keputusan lintas tim<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Pada 2026, social listening semakin dipakai untuk kebutuhan lintas fungsi: marketing mengoptimasi pesan dan konten, customer care memperbaiki respons dan SOP, product mengumpulkan masukan untuk roadmap, serta PR mengelola risiko reputasi. Dampaknya, social listening tidak lagi \u201cdimiliki\u201d satu tim, melainkan menjadi sumber intelligence bersama.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Marketing: menyusun angle konten berbasis pain point dan pertanyaan berulang.<\/li>\n\n\n\n<li>Customer care: mengidentifikasi isu yang memicu keluhan dan memperbaiki response playbook.<\/li>\n\n\n\n<li>Product: memvalidasi kebutuhan fitur atau menguji penerimaan terhadap perubahan.<\/li>\n\n\n\n<li>PR: mendeteksi lonjakan sentimen negatif dan menyiapkan mitigasi lebih awal.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tren 2: AI membantu \u201cmeringkas data besar\u201d, namun human review tetap krusial<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Volume percakapan yang tinggi membuat analisis manual tidak efisien. Karena itu, banyak workflow 2026 mengandalkan AI untuk melakukan ringkasan, clustering topik, dan deteksi pola. Namun, semakin tinggi konsekuensi keputusan (misalnya isu reputasi), semakin penting validasi manusia: memastikan konteks, menghindari salah interpretasi sarkasme, dan menilai dampak nyata terhadap stakeholder.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Gunakan AI untuk ringkasan awal dan pemetaan tema.<\/li>\n\n\n\n<li>Terapkan \u201chuman-in-the-loop\u201d untuk sampel penting: isu sensitif, akun berpengaruh, atau konten dengan engagement tinggi.<\/li>\n\n\n\n<li>Dokumentasikan aturan klasifikasi agar konsisten antar periode pelaporan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tren 3: Deteksi tren lebih dini melalui \u201csignal-based listening\u201d, bukan sekadar hashtag<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Tren yang bernilai bisnis sering dimulai dari sinyal kecil: perubahan frasa yang dipakai audiens, pertanyaan yang berulang, atau keluhan baru yang muncul di beberapa komunitas sekaligus. Karena itu, pendekatan 2026 cenderung menekankan \u201ctrend radar\u201d: menangkap sinyal, mengelompokkan pola, membuktikan validitasnya, lalu mengubahnya menjadi rencana aksi. Pendekatan ini menekan risiko ikut tren yang sudah terlambat atau tidak relevan.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Signal<\/strong>: tangkap percakapan kecil yang berulang (komentar, search bar, komunitas niche).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pattern<\/strong>: kelompokkan sinyal menjadi tema kebutuhan dan keberatan (objection).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Proof<\/strong>: validasi lintas sumber sebelum komit pada kalender konten.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Play<\/strong>: ubah menjadi konten\/produk\/proses yang \u201cworth saving\u201d dan relevan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tren 4: Social listening makin \u201cmultimodal\u201d (teks, visual, dan konteks konten)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Di banyak platform, penyebutan brand tidak selalu muncul sebagai teks. Ia bisa hadir sebagai logo pada video, meme, cuplikan audio, atau visual produk. Karena itu, tren 2026 bergerak ke listening yang lebih multimodal: organisasi tidak hanya memantau kata kunci, tetapi juga konteks kemunculan brand dalam format yang lebih kompleks. Bagi bisnis, ini membantu menangkap percakapan yang sebelumnya \u201ctidak terlihat\u201d.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Perluas pemantauan dari keyword ke konteks: kategori, produk, dan representasi visual brand.<\/li>\n\n\n\n<li>Prioritaskan kanal yang paling memengaruhi reputasi dan keputusan pembelian di industri Anda.<\/li>\n\n\n\n<li>Gunakan sampling untuk memvalidasi akurasi deteksi pada format non-teks.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tren 5: \u201cInfluencer intelligence\u201d dan mikro-kreator semakin terintegrasi dalam listening<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Social listening pada 2026 tidak hanya memetakan topik, tetapi juga aktor: siapa yang memulai percakapan, siapa yang memperkuat, dan siapa yang menjadi rujukan komunitas. Pengukuran berbasis influencer intelligence membantu organisasi menentukan prioritas kolaborasi, merespons pihak yang relevan, serta memahami risiko reputasi yang dipicu oleh figur berpengaruh.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Identifikasi mikro-kreator yang relevan berdasarkan topik dan komunitas, bukan sekadar jumlah follower.<\/li>\n\n\n\n<li>Bangun daftar \u201cwatchlist\u201d untuk isu sensitif dan narasi yang berpotensi meluas.<\/li>\n\n\n\n<li>Evaluasi kualitas percakapan: apakah komentar menunjukkan intent, pertanyaan, atau keberatan serius.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tren 6: Pembuktian ROI menjadi tuntutan utama (menghubungkan insight ke metrik bisnis)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Social listening yang tidak terhubung ke keputusan bisnis akan berhenti di laporan. Pada 2026, praktik yang dianggap matang adalah mengaitkan insight dengan metrik yang bisa dipantau: perubahan sentimen, pergeseran share of voice, penurunan keluhan berulang, perbaikan conversion dari konten edukasi, atau penurunan waktu penanganan isu. Dengan pengukuran yang tepat, social listening bukan biaya operasional, melainkan investasi intelligence.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Tetapkan KPI yang selaras dengan tujuan (reputasi, CX, product, atau growth).<\/li>\n\n\n\n<li>Gunakan baseline dan periode pembanding agar perubahan dapat dibuktikan.<\/li>\n\n\n\n<li>Ubah insight menjadi aksi yang spesifik, lalu ukur dampaknya secara periodik.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kerangka kerja: mengubah wawasan social listening menjadi nilai bisnis<\/h2>\n\n\n\n<p>Nilai bisnis tidak muncul dari data mentah, melainkan dari proses interpretasi dan eksekusi. Kerangka kerja di bawah ini membantu organisasi bergerak dari \u201cmendengar\u201d menjadi \u201cmengambil tindakan\u201d, lalu mengukur hasilnya. Kerangka ini dapat diterapkan untuk berbagai tujuan: reputasi, content strategy, peningkatan layanan, maupun product development.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>1) Tetapkan pertanyaan bisnis yang jelas (business questions)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Langkah pertama adalah merumuskan pertanyaan yang ingin dijawab. Pertanyaan yang terlalu umum (misalnya \u201cbagaimana sentimen brand?\u201d) sering menghasilkan output yang juga umum. Sebaliknya, pertanyaan yang spesifik memudahkan tim mengarahkan taksonomi, memilih kanal, dan menentukan metrik.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Topik apa yang paling sering memicu keluhan atau keberatan calon pelanggan?<\/li>\n\n\n\n<li>Pesan apa yang paling sering \u201cmenempel\u201d ketika brand disebut oleh pihak ketiga?<\/li>\n\n\n\n<li>Di kanal mana isu kecil biasanya mulai muncul sebelum menjadi luas?<\/li>\n\n\n\n<li>Bagian mana dari proses layanan yang paling sering membingungkan audiens?<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>2) Bangun taksonomi dan cakupan sumber (taxonomy &amp; sources)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Taksonomi adalah fondasi kualitas. Ia mencakup daftar entitas (brand, produk, program), kata kunci risiko, variasi ejaan, serta kategori topik untuk pengelompokan insight. Pada tahap ini, Anda juga menetapkan cakupan sumber: media, sosial, forum, komunitas, dan kanal lain yang relevan terhadap industri.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Entity<\/strong>: brand\/produk\/eksekutif\/kampanye\/kompetitor.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Topic buckets<\/strong>: harga, proses, kualitas, keamanan, layanan, inovasi, dan lain-lain.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Noise control<\/strong>: exclusion rules untuk homonim, spam, dan konteks tidak relevan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>3) Olah sinyal menjadi insight (analysis &amp; interpretation)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Pada tahap analisis, tujuan utama adalah memisahkan sinyal dari noise dan menemukan driver. Insight yang baik bukan hanya \u201ctopik paling sering\u201d, melainkan \u201ctopik yang paling memengaruhi persepsi dan keputusan\u201d. Kombinasi AI (clustering, ringkasan) dan validasi manusia (kasus penting) biasanya menghasilkan output yang lebih dapat dipercaya.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Topic clustering<\/strong>: mengelompokkan percakapan menjadi tema kebutuhan dan keberatan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sentiment &amp; framing<\/strong>: menilai tone dan cara isu dibingkai (konteks positif\/netral\/negatif).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Driver analysis<\/strong>: mencari penyebab: fitur, proses, biaya, atau pengalaman layanan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Influencer\/community mapping<\/strong>: melihat aktor yang memperkuat percakapan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>4) Ubah insight menjadi keputusan dan action plan (activation)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Insight yang tidak diaktifkan tidak menghasilkan nilai. Aktivasi berarti menerjemahkan temuan ke perubahan yang dapat dikerjakan: perbaikan konten, revisi SOP layanan, penyesuaian pesan, atau langkah mitigasi reputasi. Tahap ini sebaiknya menghasilkan output yang jelas: siapa pemiliknya (owner), tenggat, dan indikator keberhasilan.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Marketing: kalender konten berbasis pertanyaan berulang + bukti (proof) yang relevan.<\/li>\n\n\n\n<li>Customer care: template respons dan eskalasi isu, termasuk SLA dan tone standar.<\/li>\n\n\n\n<li>Product: backlog perbaikan atau validasi roadmap berdasarkan masukan audiens.<\/li>\n\n\n\n<li>PR: narasi klarifikasi, Q&amp;A publik, dan rencana respons jika isu meningkat.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>5) Ukur dampak dan dokumentasikan pembelajaran (measurement)<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Nilai bisnis perlu dibuktikan melalui perubahan metrik. Karena itu, setiap action plan sebaiknya memiliki indikator sebelum-sesudah (baseline vs after). Jika tujuannya reputasi, ukur pergeseran sentimen dan penurunan isu berulang. Jika tujuannya growth, ukur dampak pada engagement berkualitas, CTR, atau lead signals. Dokumentasi pembelajaran juga penting agar strategi bisa diulang, bukan dimulai dari nol setiap periode.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Perubahan share of voice pada topik prioritas.<\/li>\n\n\n\n<li>Perubahan komposisi sentimen (dengan audit sampel untuk kasus penting).<\/li>\n\n\n\n<li>Penurunan pertanyaan berulang setelah konten FAQ\/edukasi dipublikasikan.<\/li>\n\n\n\n<li>Perbaikan waktu respons dan tingkat resolusi isu di kanal sosial.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">KPI social listening yang paling sering digunakan untuk mengukur value<\/h2>\n\n\n\n<p>Memilih KPI yang tepat menentukan apakah social listening dipahami sebagai \u201claporan\u201d atau \u201cintelligence\u201d. Pada tingkat menengah, KPI sebaiknya tidak hanya kuantitatif (volume), tetapi juga kualitas (tone dan kredibilitas sumber) serta relevansi bisnis (dampak pada reputasi, layanan, atau performa kampanye). Kombinasi KPI berikut umum dipakai dalam praktik karena relatif mudah dijelaskan kepada stakeholder.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>KPI kuantitas: seberapa besar percakapan dan seberapa cepat bergerak<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>KPI kuantitas berguna untuk membaca skala dan tren perubahan. Namun, KPI ini perlu selalu dibaca bersama KPI kualitas agar tidak menyesatkan (misalnya volume naik karena isu negatif).<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Mentions volume<\/strong> (per kanal\/per topik).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Velocity<\/strong> (laju kenaikan percakapan dalam periode tertentu).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Share of Voice<\/strong> (dibanding kompetitor pada topik strategis).<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>KPI kualitas: bagaimana percakapan dibingkai dan siapa sumbernya<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>KPI kualitas membantu menilai reputasi dan kredibilitas. Fokusnya bukan hanya \u201cpositif\/negatif\u201d, tetapi juga framing, konteks, dan kualitas sumber yang memproduksi percakapan.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Sentiment distribution<\/strong> (dengan human review untuk sampel kritikal).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Message pull-through<\/strong> (apakah pesan kunci ikut terbawa oleh pihak ketiga).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Source quality\/tiering<\/strong> (otoritas akun\/media\/komunitas).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Prominence<\/strong> (seberapa menonjol brand dalam pembahasan).<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>KPI dampak: apa perubahan yang relevan bagi bisnis<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>KPI dampak menghubungkan social listening dengan keputusan dan hasil. KPI ini yang biasanya diperlukan untuk membuktikan ROI\u2014baik ROI finansial maupun ROI reputasi dan efisiensi operasional.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Reduction in repeated issues<\/strong> (setelah perbaikan konten\/SOP).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Customer care efficiency<\/strong> (waktu respons, tingkat resolusi, eskalasi).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Campaign lift<\/strong> (engagement berkualitas pada konten yang dibuat dari insight).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Risk mitigation<\/strong> (deteksi lebih awal, isu tidak membesar, atau durasi krisis berkurang).<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Model operasional 2026: dari rutinitas 30 menit hingga laporan stakeholder<\/h2>\n\n\n\n<p>Social listening yang efektif memerlukan ritme kerja. Tanpa ritme, tim akan cenderung \u201ctenggelam\u201d dalam data atau hanya aktif saat isu membesar. Pada 2026, model yang umum dipakai adalah kombinasi rutinitas singkat namun konsisten, ditambah laporan berkala yang memudahkan keputusan lintas tim.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh ritme operasional yang realistis:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Harian<\/strong>: alert untuk spike, isu sensitif, dan mention dari akun berpengaruh.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Mingguan<\/strong>: ringkasan topik dominan, pola pertanyaan\/keluhan, dan rekomendasi aksi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bulanan<\/strong>: tren KPI (SoV, sentiment, drivers), evaluasi action plan, dan prioritas berikutnya.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Untuk menjaga konsistensi proses, Anda dapat menempatkan rujukan prosedur internal pada halaman <a href=\"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/apa-itu-social-listening\/\">Social Listening<\/a>, sehingga standar definisi, taxonomy, dan format laporan tidak berubah-ubah antar tim atau periode.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Panduan formal Social Listening 2026 yang membahas tren utama, metodologi, KPI, dan workflow untuk mengubah sinyal sosial menjadi keputusan serta nilai bisnis yang terukur.<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":9324,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[115],"tags":[],"class_list":["post-9232","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-analisis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9232","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9232"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9232\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9233,"href":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9232\/revisions\/9233"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9324"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9232"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9232"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sonarplatform.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9232"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}